Jumat, 08 Juli 2011

I'm Sorry ..

Kembali lagi denganku, Arumi yang senantiasa menemani pembaca sekalian dengan cerpen-cerpenku. Cerpen yang aku publish kali ini adalah, cerita yang kubuat untuk tugas ekskul Jurnalistik. :) Selamat menikmati!




I’m Sorry ...

            Aku kagum dengannya. Si murid baru berjil—apalah. Aku tidak begitu mengerti tentang kepercayaannya. Yang jelas, dia berbeda denganku. Ia memakai penutup kepala, membuat rambutnya itu tidak terlihat.
             Kalau tidak salah, ia adalah seorang mus ... ah, iya, muslim. Sesuatu yang asing di telingaku—juga di telinga kebanyakan siswa di sini.
           Namanya Rasya. Kami memang sering kesulitan memanggil namanya. Jika kami yang mengucapkan nama itu, malah terdengar seperti Rasia. Itu kata yang sulit diucapkan bagi kami.
            Aku kagum padanya ...
            Ini bulan September. Baru saja kami mulai masuk sekolah setelah libur musim panas.
            Hari ini seperti biasa aku menemukannya di perpustakaan. Ya, perpustakaan memang tempat favoritnya sewaktu istirahat. Entah buku apa yang dibacanya—yang jelas dia sangat rajin.
            “Hai, Rasia ...!” seruku menyapanya. Rasya yang sedang mengambil sebuah buku di rak menoleh, lantas tersenyum. Senyuman yang teduh.
            “Hai juga,”
            Aku duduk di kursi yang disediakan di sana bersama Rasya.
            Kami mengobrol lama. Sebenarnya memang hanya dimulai dari pengalaman liburan. Lalu, aku malah menyambungkan obrolannya ke pelajaran fisika yang membingungkan. Dan pada akhirnya, kami malah terlibat pembicaraan mengenai OSIS.
            “Eh, Rasia,” panggilku. Rasya menoleh lagi. “Mau ke kantin?”
            “Ah, maaf ...” ujarnya pelan. “Aku sedang berpuasa. Maaf, ya,” tambahnya.
            “He? Apa? Pu—”
            “Puasa. Itu kewajiban kami sebagai seorang muslim,” ia tersenyum manis seperti biasanya.
            “Hm, apa itu?”
            Rasya menjelaskan maksud puasa secara panjang-lebar kepadaku. Aku cuma manggut-manggut—sok—mengerti.
            “Menjadi seorang muslim memang harus begitu, ya?” tanyaku tidak mengerti. Yang sedang kupikir sekarang adalah, kenapa-aturan-di-agama-itu-ketat-sekali?
            “Tentu saja!” ia tersenyum lagi. “Tapi, setelah bulan puasa ini, kami akan bertemu dengan bulan yang akan membuat kami bersih kembali. Seperti baru lahir. Karena itulah, saat itu adalah waktu yang tepat buat seseorang meminta maaf,”
            “He?”
“Mungkin, setelah kau menjadi Islam, akan tahu sendiri.” ia berdiri. Mengakhiri pembicaraan.
            Kalimat terakhirnya bergema di benakku. Setelah kau menjadi Islam, akan tahu sendiri?
            “Agama Islam itu aneh sekali, ya?” tanyaku pelan. Tapi Rasya langsung menoleh setelah aku mengatakannya. Tatapan matanya beda dengan biasa. Sepertinya, ada kata-kataku yang salah ...
            “Eh, Rasia!” aku menghentikannya. Tapi terlambat. Nampaknya, gadis yang selalu menggunakan pakaian tertutup itu sudah keluar dari ruang perpustakaan dan kembali ke kelasnya. Saat itu pulalah, bel tanda masuk berbunyi.

xXxXx
            Hari ini, tanggal 3 September.
            “Eeeh??” tanyaku tidak mengerti.
            “Aku tidak berbohong! Tanggal 6 September besok, Rasya akan pindah dari sekolah ini!” tukas satu-satunya teman kelasku yang bisa menyebut nama Rasya dengan baik, Chinen.
            “Ta, tapi ... dia belum pernah bilang kepadaku ...” ucapku lirih.
            “Sebaiknya kau temui dia,” kata teman dekatku, Kana. “Minta maaf kepadanya kalau kau memiliki salah,”
            Aku mengangguk pelan. Padahal, hatiku sendiri belum siap menemuinya. Belum siap menatap wajah teduh yang akan segera berpisah denganku itu.
            Tapi bahkan, aku belum meminta maaf atas perkataanku yang salah kemarin. Aku sendiri malah tidak mengerti apa salahku! Tapi dia jelas-jelas kesal denganku saat itu ...
            Aku memasuki kelas kembali. Lalu, aku duduk di bangkuku. Bangku nomor tiga dari depan.
            Sambil menunduk, aku berpikir banyak. Tiba-tiba saja, terlintas kmbali ucapan Rasya di benakku. Setelah kau jadi Islam, akan tahu sendiri ...
            Tapi sayangnya, saat itu aku melupakan kalau hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya ...
            Terlalu banyak melamun memang berakibat buruk. Aku melewati sore ini dengan sia-sia. Hanya dengan melamun, memikirkan tentang perpisahanku dengan Rasya.
            Dan aku benar-benar lupa ...
            Sungguh. Aku melupakannya. Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan Rasya. Di sini, hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Jadi ...
            “Aku tidak bisa bertemu lagi dengannya ...” gumamku lirih.
            Aku segera mencari Rasya. Tapi mustahil sukses. Aku sama sekali tidak menemukannya.
            “Di mana Rasya?!” tanyaku kepada teman sebangku Rasya. Dan itu kali pertamanya aku menyebut nama Rasya dengan sempurna.
            “Dia ...”
            “DI MANA DIA?!” aku kembali bertanya.
            “Di, dia sudah pulang ...”
            Sakit ...
            Hatiku kembali terasa teriris. Seperti saat aku mendengar kabar bahwa Rasya akan pindah tadi siang.
            Padahal aku belum sempat mengucapkan kalimat perpisahan kepadanya ... dan aku juga belum meminta maaf kepadanya ...” sesal hati kecilku.
            “Sebenarnya, ke mana Rasya akan pindah?” tanyaku pelan. Aku sudah menyerah. Pasrah.
            “Aku juga kurang tahu. Tapi, dia pernah bilang kalau dia memiliki darah kelahiran Indonesia. Jadi ...”
            “Jadi dia pindah ke Indonesia??” aku terbelalak. Tidak percaya. Aku benar-benar lalai. Bagaimana aku bisa lupa? Hari ini benar-benar hari terakhirku dengannya.
            Aku jadi merasakan perasaan itu. Walau dia berbeda kelas denganku, kebaikan hatinya itu membuat dia punya banyak teman. Aku juga ... sudah menganggapnya sebagai sahabat ...
            Aku kembali teringat kalimat yang diucapkan Rasya. Iya. Kalimat itu. Satu-satunya kemungkinan untuk meminta maaf padanya.
            Saat itu adalah waktu yang tepat buat seseorang meminta maaf. Ya, kata itu! Setelah bulan puasa, ada sebuah hari terbaik buat meminta maaf!
            Dan aku dengan harap-harap cemas menunggu hari itu.

xXxXx
            Tanggal 6 September.
            Hari ini, hari Rasya akan berangkat ke Indonesia. Aku sudah tenang. Toh, aku bisa meminta maaf saat harinya telah tiba lewat SMS atau Telepon, kan? Lagi pula, perminta maafan setiap orang akan diterima pada hari itu! Jadi, percuma saja aku meminta maaf di hari lain yang belum tentu dimaafkan.
            Sepulang sekolah, aku menyalakan TV.
            Kecelakaan yang menewaskan hampir seluruh isi pesawat itu terjadi di Indonesia, Asia Tenggara.” berita di saluran televisi swasta mulai membacakan berita teraktual.
            Aku terbelalak.
            Itu ... tidak mungkin, kan?
            Aku menggeleng cepat. “Apa yang aku pikirkan, sih? Pasti itu bukan pesawat yang dinaiki Rasya!”
           
xXxXx
            10 September.
            Aku memencet-mencet tombol handphone-ku. Lantas, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rasya.
            Tapi, pesan itu tidak juga terkirim. Sudah kuulang berkali-kali, tapi tetap saja tidak bisa.
           Dan saat itu juga, aku dikirimi pesan singkat oleh teman sekelas Rasya. Tepatnya, teman dekat Rasya di kelas.
            Rasya telah meninggal di kecelakaan pesawat tanggal 6 September kemarin. Marilah kita sama-sama berkabung untuknya ...
            Aku jatuh terduduk. Di hari yang sangat istimewa baginya itu, dia ... dia ... Pergi?
            “Ya Tuhan ...”
           
xXxXx
            Rasya, aku punya kabar baik untukmu. Walau kau sudah tiada, aku harap kau masih selalu tetap mendengar kata hatiku.
            Aku sudah berganti agama. Sekarang, aku adalah seorang muslim. Dan sekarang, aku tahu betapa bodohnya aku mengatakan kalau agama Islam itu aneh. Pasti itu yang membuatku kesal kepadaku, kan?
            Rasya.
            Semoga Allah menempatkanmu di sisi yang baik.
            Aku memang belum sempat mengikuti puasa Ramadhan. Tapi Rasya, mulai tanggal 2 Syawal kemarin, aku sudah berhasil mengikuti puasa. Walau aku bisa merasakan perutku yang sakit, tapi aku menikmatinya.
            Rasya ...
            Tolong maafkan kesalahan-kesalahanku, ya ...
            Tolong ...

End

By : Kemuning Arumingtyas Adiputri [^.^]

Kamis, 07 Juli 2011

My New School

Na, na~ Sama seperti Liburan Sera, cerpen ini juga kubuat ketika kelas 4 atau 5 SD! Tolong bandingkan dengan cerpenku sekarang, yah! Enjoy~

My New School


Aku Miau, si kucing persia. Hari ini, aku akan menempati  rumah baru. Itu dikarenakan pemilikku, Sanae-chan dan keluarganya yang ramah akan pindah rumah.
           Selama perjalanan, aku tidur di pangkuan Sanae-chan yang hangat. Rasanya perjalanan ini berlalu cepat sekali. Hahaha... tentu, karena aku tidur.
            Sampailah kami di rumah baru. Rumah ini sangat luas untuk hitunganku.
            “Nah, Miau-chan tidur di sini, ya!” Sanae-chan meletakkanku di ranjang yang empuk.
            “Miaaaaw!” aku hanya menggeliat.
“Sanae pergi dulu ya...” Sanae-chan berlalu pergi. Aku memperhatikan ruanganku. Ruangan ini lebih dari cukup bagiku yang hanya seekor kucing.
Aku yang tak tahan hanya tiduran saja seperti kucing pemalas, segera nyelonong ke luar rumah lewat jendela.
“Wah, kenapa kau tidak sekolah?!” tanya seekor kucing bertubuh besar dan berwajah geram menghadangku.
“Se ... sekolah apa?” tanyaku gugup.
“Jangan pura-pura! Aku akan mengantarmu dan mengadukanmu ke gurumu!” sela kucing itu. Aku bergidik takut. Ia menarikku. Aku yang jauh lebih kecil darinyapun tak bisa mengelak lagi.
“Wah, kau sudah datang!” seru guru yang ada di sebuah kelas. Aku memperhatikan murid-murid di sini. Mereka berukuran sama sepertiku. “Silakan duduk, anak manis!”
Aku duduk di samping kucing Jepang yang manis. Ia tersenyum padaku.
“Namaku Myu. Kau Miau-chan, kan?” Myu-chan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.
“Ya!”
Kami menjadi sahabat yang sangat akrab. Ia sangat baik padaku. Katanya, nama pemiliknya adalah Fumie-san. Namanya agak mirip dengan Sanae-chan, ya ...? Sebenarnya, pemiliknya  bukan golongan orang mampu, tapi sangat mencintai budaya kami, budaya Jepang. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin berteman dengan Myu-chan!
“Di mana rumahmu?” tanya Myu-chan kepadaku.
“Oh, aku? Aku tinggal di rumah baru itu! Kau tahu? Aku tidak hafal alamatnya.” sahutku.
“Ya, aku tahu,rumah yang besar dan megah itu, kan?”
“Tidak juga ...,” aku malu-malu.
Beberapa jam berlalu. Ada suara yang sangat ku kenal memanggil-manggil namaku.
“Miau-chan! Dimana kamu?!”
“Ah, gawat!” gumamku. Sepertinya itu Sanae-chan. Tak kusangka, ternyata Myu-chan juga dipanggil-panggil oleh pemiliknya, Fumie-san.
“Myu-chan! Kamu di mana?”
Aku dan Myu-chan deg-degan. Teman-teman kami yang lain dapat tempat sembunyi, tapi tidak bagi kami! Kedua orang itu makin mendekat. Kami hanya bisa menutup mata ketakutan ...
Saat kami membuka mata kami,
“Fumie!” teriak Sanae-chan.
“Ah, kamu .... Sanae, ya? Ya ampun! Sanae!” Fumie-san mendekat ke arah Sanae-chan.
“Kita bisa bertemu lagi di sini ...” tukas Sanae-chan sambil memeluk Fumie-san.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku kepada Myu-chan. Myu-chan hanya mengangkat bahu, tanda tidak tahu.
“Miau-chan, ada kabar baik! Kau tahu, pemilik kucing yang menjadi temanmu ini, adalah Fumie, saudara kembarku!” Sanae-chan mengangkatku sambil menitikkan air matanya. Aku terkejut. Dia ... kembarannya Sanae-chan? Pantas saja mereka mirip!
“Bagaimana aku bisa berterimakasih kepada tuhan?” Fumie-san tampak senang sekali.
Sanae-chan menceritakan lagi masa lalunya yang menyedihkan. Yaitu ketika ia kehilangan Fumie-san.
Saat itu, mereka masih SD kelas 4. Mereka yang masih polos diculik begitu saja oleh orang yang tidak dikenal. Sanae-chan yang menyadari bahaya akan hal ini segera lari sekencang-kencangnya. Begitu juga Fumie-san. Namun, Fumie-san tersesat di jalan, sehingga ia tak bisa pulang ke rumah. Sejak saat itu, mereka tidak bertemu lagi sampai sekarang. Sampai saat ini, Sanae-chan sangat menyesal karena tidak mengajak Fumie-san untuk lari bersamanya.
Aku senang, ternyata selain dapat teman baru, aku bisa mempertemukan saudara  yang tidak bertemu selama 3 tahun lebih ...,

*****

Liburan Sera

Hahaha, asal kalian tahu, ini cerpenku saat aku masih kelas 4 atau 5 SD!! Aku hanya iseng mem-publishnya kok! Sekalian supaya kalian semua dapat membandingkan perkembangan bahasa ceritaku. Enjoy!

Liburan Sera


Untuk kesekian kalinya, Sera menguap. Liburan musim panas ini sangatlah membosankan. Dia memang libur, tapi orang tuanya tetap sibuk bekerja.
Sera Micely nama aslinya. Ia adalah seekor tikus putih yang hidup di Animal City, sebuah kota kecil di negaranya. Dia memang pemalas dan cuek. Tapi, adakalanya ia sadar akan sifat buruknya.
 Hari ini, untuk kesekian kalinya ia  duduk termenung di belakang jendela kamarnya yang mungil. Ia membayangkan acara liburan teman-temannya. Tersy hamster pergi ke pedesaan yang masih asri di negaranya, yaitu Garden Town, Keyra monyet pergi ke taman bermain terkenal, yaitu Forest Park, Cowse sapi akan berlibur ke negara tetangga. Juga teman-teman lainnya. Pasti liburan mereka sangat menyenangkan ...!
 “Papa pulang!” teriak seseorang dari pintu rumah membangunkan lamunan Sera. Sera berlari kecil ke luar.
“Wah, Papa sudah pulang!” Sera tampak girang.
“Sera, besok hari Sabtu, Papa akan menunjukkan sesuatu untuk Sera!” sela papa.
“Ha?! Sesuatu apa?” tanya Sera penasaran.
“Ada aja!” papa mengedipkan sebelah matanya sambil menaruh tasnya.
Sera agak penasaran. Tapi, ia menutup kepenasarannya itu. “Sudahlah ...,” pikirnya. Malampun telah datang. Setelah gosok gigi, Serapun tidur, menanti hari esok.

***
“Sera! Cepat bangun! Kau mau ikut tidak?!” mama membangunkan Sera sambil menarik selimut  Sera. Tapi Sera tak menghiraukannya.
Ayah yang masih beres-beres menghampiri Sera. Lalu, ia membisikkan sesuatu ke telinga Sera.
“HAAAH!! O, iya! Ini hari Sabtu!” Sera langsung meloncat tak karuan.
“Apa yang Papa bisikkan?” tanya mama heran. Papa hanya tersenyum simpul.
Mereka berangkat menaiki mobil milik Sera dan keluarganya. Sera mengamati pemandangan dari luar jendela mobil.
Beberapa saat berlalu. Kini, mobil telah berhenti. Bukan karena lampu merah, bukan juga karena mogok. Melainkan, sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
“Tempat apa ini?” tanya Sera sembari keluar dari mobil.
“Ini makam. Kita akan mengunjungi Kakek yang telah wafat.” sahut mama sambil menunjuk papan yang bertuliskan ‘Pemakaman Umum Hewan (PUH) Animal Die’. Sera agak kecewa. Ia pikir, akan berlibur ke tempat yang menyenangkan.
“Ayo masuk!” ajak papa. Mau tak mau Sera mengikuti papa dan mama dari belakang.
Setelah menaburkan bunga yang barusan dibeli oleh papa, mereka berdo’a agar kakek selamat di akhirat. Lalu, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Di mobil, Sera tertidur pulas. Mungkin karena kecapekan. Hmmm ...., tentu karena perjalanan yang lama.
Tiba-tiba, Sera terbangun. Ia tidak mendapati orangtuanya di bangku mobil bagian depan. Sera berteriak-teriak mencari orangtuanya. Tiba-tiba,
 “Sera ...,” panggil seseorang.
Sera menoleh ke arah suara itu. Di saat itu pula, langit berubah jadi gelap gulita. Semua hewan yang ada di sana semuanya menghilang. Sera sangat ketakutan.
“Siapa di sana?!” seru Sera sambil bergidik ngeri.
“Aku di sini. Aku Kakekmu, Sera. Kakekmu yang baru saja kau kunjungi.” jawab orang itu.
Sera tersentak. Ia berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Tanpa terasa, matanya mengeluarkan air mata. Ya...dia menangis karena ketakutan.
“Jangan pergi!” orang itu mengejar Sera. Secepat apapun  Sera berlari, ia tak bisa mengalahkan kecapatan kakek itu.
Padahal ia sudah reyot ...,” pikir sera dalam hatinya.
Tanpa disadari, kakek aneh itu sudah ada di depan Sera. Sera hendak balik arah, tapi orang itu ada juga. Begitupula dari samping kanan, maupun kiri. Hiks! Air mata Sera keluar lebih deras lagi. Ia sungguh ketakutan. Dan sekarang, ia tak bisa lari.
“Kenapa kau malas mengunjungi kakekmu ...?!” tanya para kakek itu seraya terbang (mereka memang terbang,) ke arah Sera sambil bersiap mengayunkan tongkat yang tak kalah anehnya dengan penampilan orang itu.
“AAAAAKH ...!” jerit Sera. Ia tersadar. “Hahh ... hahh ...,” napas Sera sudah tidak beraturan lagi.
“Ada apa, Nak?” tanya mama sambil menoleh ke arah Sera.
Sera celingak-celinguk ke kanan-kiri. “Kemana Kakek itu?” tanya hati Sera. “Ti ... tidak, Ma, aku tidak apa-apa.”
“Nah, sekarang turunlah. Kita sudah sampai.” tukas papa.
Sera menoleh ke luar. Ternyata ia sampai di rumah Neneknya.
“Rumah Nenek?”
“Ada masalah apa?” papa balas tanya. Sera menggeleng pelan. Walaupun ia ingat, saat itu, Kakek meninggal di rumah ini. “Huft ...!” Sera menghela napasnya. Ia berjanji akan rajin mengunjungi makam Kakek tersayangnya.

*****