Ini adalah hasil karyaku ketika aku duduk di kelas 1 SMP. Cerpen ini aku ikutsertakan di lomba menulis cerpen antar kelas dan meraih juara pertama.
Daun-daun Kering
Buah karya : Kemuning Arumingtyas Adiputri [7 F]
Ayah pernah bercerita sedikit kepadaku. Tentang sebuah negara yang damai dan begitu tenteram. Rakyatnya hidup makmur dan berkecukupan.
“Ketahuilah, Nak. Negeri yang ayah bicarakan itu adalah ... negara kita sendiri. Negara yang sedang di ambang kehancuran. Ini kenyataan yang sulit, tidak hanya untukmu, tapi untuk semua orang juga.” terang ayah sambil berdiri mengakhiri cerita.
Aku menunduk. Kalau saja, aku hidup di beberapa ratus tahun silam, aku tidak akan terjebak di situasi serba hancur seperti ini.
***
Perang ini sudah terjadi sejak beratus-ratus tahun. Sampai sekarang pun, pertumpahan darah ini belum juga berakhir.
Andaikan saja dulu aku tidak lahir, aku tidak perlu merasakan situasi seperti ini. Tapi, manusia hanya diciptakan untuk mengikuti arus. Dan bagaimana pun, aku sudah terperangkap di sini. Di kondisi ini.
Aku takut. Rasanya ingin mati saja. Aku sudah tidak tahan! Kami kekurangan makanan, kami kehilangan kesehatan, kami sudah mempertaruhkan semuanya! Setiap hari, kami, yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak, justru selalu diperlihatkan kepada kekerasan dan kebrutalan. Warna merah sudah sering kami dapati di mana-mana. Setiap hari.
Walau tahu keadaannya begini, aku tidak pernah berbuat apa-apa. Aku hanya anak kecil biasa. Yang selalu ketakutan melihat tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan dengan darah segar di mana-mana. Aku hanya anak biasa, yang hanya melihat kekacauan dunia dari balik tirai rumah yang sudah kumal. Aku cuma anak-anak.
Dan, yang lebih penting adalah—aku harus selalu siap menghadapi segala siksaan. Di negara yang sudah luluh lantah ini, malaikat maut bisa datang kapan saja, di mana saja. Bukan cuma mempersiapkan diri, tapi juga mempersiapkan mental, menghadapi kematian orang lain. Tentu saja.
***
DOR!!
“UAAAKH!!”
Aku terjaga dari tidurku yang tidak pernah nyenyak. Aku menggigil. Pasti ada orang yang terbunuh lagi, pikirku.
“A, Ayah!” panggilku sambil menoleh ke sebelahku—tempat ayah biasa beristirahat. Tidak ada. Tempat itu kosong.
Dengan ragu-ragu aku menuju ke luar. Melangkahkan kakiku yang gemetar.
“Ayah ...!” aku kembali memanggilnya. Tidak ada sahutan apa-apa. Hanya sebuah jawaban dari keheningan malam. Aku mulai cemas. “Ayah! Ayah di mana?!”
Aku mulai berlari menyusuri kegelapan dunia. Berusaha menemukan sosok yang teramat penting bagiku itu. Keputusasaan tiba-tiba saja menghampiriku. Memasuki lubuk hatiku tanpa permisi. Aku ... takut!
Tiba-tiba saja, mataku menangkap sesuatu. Dari kejauhan, aku melihat sosok itu. Tergeletak tanpa daya dengan cairan merah di sekitarnya. Membuat lariku terhenti.
“Tidak ... mustahil ...” gumamku pelan. Keberadaan sosok itu membuatku jatuh terduduk. “Ayah ...”
Aku beranjak mendekatinya sedikit lagi. Setidaknya untuk memastikan kalau itu benar-benar seseorang yang aku cari. Ah, bukan. Hanya untuk memastikan kalau sebenarnya orang itu bukanlah orang yang kupikirkan.
Tapi kenyataan berkata lain. Aku harus kembali menerima rasa sakit yang mendalam setelah ditinggalkan oleh orang yang telah melahirkanku. Dia benar-benar ... seseorang yang selalu memotivasiku. Seseorang yang selalu mendukungku. Seseorang yang selalu menghiburku. Satu-satunya orang yang tidak pernah lepas dari pikiranku. Ayah.
Aku memegang tangannya yang lemah. Air mata perlahan mengucur dingin melalui pipiku. Aku benar-benar putus asa.
“Nak,” ayah memanggilku lirih. Aku tersentak.
“Ayah! Ayah masih hidup?!” aku berseru. “Ayah, ayah harus kuat! Bertahan, Yah ...!”
Sosok itu menggeleng lemah. “Nak, ayah sudah tidak kuat lagi. Malaikat kematian sudah hampir menemui ayah. Tapi dengar, Nak, ini adalah pesan terakhir ayah untukmu,” ucap ayah. “Walau pun ayah akan benar-benar tidak ada nantinya, tetaplah kuat menghadapi segala cobaan. Segala penderitaan. Itu semua nantinya akan membuatmu kuat, Nak.”
Aku terdiam. Hanya sejenak, sebelum akhirnya ayah meneruskan.
“Nak, janganlah kau menjadi daun-daun kering, yang hanya akan mati dimakan usia. Yang hanya terbang tak tentu arah. Kau harus menjadi daun-daun hijau yang masih tetap melekat di ranting pohon. Yang menghadirkan ketenangan bagi yang memandangnya. Yang menghidupi orang lain dengan menghisap karbon dioksida dan melepaskan oksigen. Ingatlah itu, nak ...”
Detik berikutnya, mata ayah tertutup.
“Ayah! Ayah! Bangun!!” teriakku. Namun, mustahil sukses. Ia sudah pulang dengan tenang.
Sadar akan kenyataan ini, akhirnya aku beranjak berdiri sembari mengusap air mataku. Meneguhkan hatiku seperti yang dipesan oleh ayah. Walau pun, dada ini terasa begitu sesak. Mata ini terasa begitu perih. Jiwa ini terasa begitu hampa. Tapi, demi ayah, aku siap.
***
Sudah sekian lama sejak kepergian ayah. Tapi, aku tidak juga bergerak mengubah keadaan ini. Aku hanya selalu duduk termenung. Memikirkan segala hal yang bisa kulakukan. Mengikuti perang, sepertinya bukan hal yang mudah. Bila kupikir sekali lagi, kebenaran tentang perang ini, perang secara individu tidak akan berhasil menyelesaikan segalanya. Semuanya harus bersatu. Bekerjasama.
Namun, aku harus kembali menegaskan, aku bukanlah anak yang spesial. Aku anak biasa. Anak yang begitu menginginkan ketenangan dan kedamaian.
Anak seperti aku, memangnya bisa apa?
Tiba-tiba, pikiranku tadi memberikanku sebuah inspirasi. Semuanya harus bersatu! Ya, bersatu!!.
Aku memikirkan banyak hal. Segala sesuatu yang bisa kulakukan untuk membuat semuanya bersatu. Memerangi lawan bersama-sama.
Kini, aku harus menunggu waktu.
Tanggal 20 Mei 1908.
Para pemuda Indonesia mendirikan sebuah organisasi bernama Budi Utomo.
Aku baru mengetahui berita itu akhir-akhir ini. Padahal, Budi Utomo sendiri sudah berdiri sejak ... beberapa tahun yang lalu. Itu pun, aku hanya mendengar kasak-kusuk dari warga sekitar. Yang kutahu, itu adalah tempat para pemuda mengutarkan pendapat-pendapatnya—untuk mewujudkan kemerdekaan. Aku cukup tertarik. Tapi, aku bisa apa? Aku anak biasa.
“Eh, kamu ingin ikut dengan Mbak?” tanya Mbak Siti ketika kutemui di lapangan dekat rumahku. Aku mengangguk dengan antusias.
“Iya, Mbak! Aku cuma ingin lihat kegiatan-kegiatan organisasi yang diikuti oleh Mbak!” jawabku.
Mbak Siti menghela napas. Lantas tersenyum kecil. “Baiklah. Nanti sore, datang ke sini lagi, ya. Mbak akan mengajakmu ke suatu tempat.”
Aku juga ikut tersenyum.
***
Sudah bertahun-tahun sejak saat itu. Sekarang, aku adalah anggota di beberapa organisasi-organisasi pemuda di Indonesia. Beberapa perubahan perlahan muncul di negeri ini.
“Negara ini harus bersatu!” begitulah prinsip dari kami, para pemuda bangsa.
Akhirnya, di kemudian hari kami menyepakati bahwa akan membuat sebuah ikrar. Ikrar yang akan mengubah Indonesia. Selamanya.
“Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Pembacaan ini dihadiri oleh berbagai wakil organisasi, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan lain-lain. Adapun sumpah pemuda ini dibacakan di Gedung Kramat 106.
Setelah berdiri untuk ikut membacakan ikrar, aku kembali duduk sembari menghela napas lega. Semoga ini permulaan untuk perubahan Indonesia, ucapku dalam hati.
Selepas selesainya kegiatan ini, aku pun berjalan tenang ke luar ruangan. Dengan bangga aku melangkahkan kakiku seraya berseru dalam hati Dunia, inilah kami. Para pemuda Indonesia yang akan mengubah dunia!.
DOR DOR DOR!!
Aku tersentak. Tiba-tiba tubuhku terasa sangat sakit. Rasa sakitnya membuatku terjatuh tak berdaya. Dari kepalaku, terlihat cairan merah menggenang. Mereka menangkapku. Aku lengah.
“Surti! Surti!!”
Samar-samar aku mendengar teman-teman memanggil namaku. Tapi, selanjutnya aku tidak bisa mendengar apa-apa. Tidak bisa melihat apa-apa. Dan bahkan, merasakan apa pun juga tidak bisa.
Ayah, aku berhasil. Aku sudah mengubah Indonesia. Dan ayah ... sebentar lagi aku akan menyusulmu ...
***
“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melanjutkan perjuanganku lebih dari ini,”
“Tidak apa, Nak. Kau sudah berhasil melakukannya.”
“Eh?”
“Sekarang, generasi penerus bangsa berikutnya yang akan melanjutkan perjuanganmu.”
“Iya, Yah. Aku berharap banyak ...”
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar