I’m Sorry ...
Aku kagum dengannya. Si murid baru berjil—apalah. Aku tidak begitu mengerti tentang kepercayaannya. Yang jelas, dia berbeda denganku. Ia memakai penutup kepala, membuat rambutnya itu tidak terlihat.
Kalau tidak salah, ia adalah seorang mus ... ah, iya, muslim. Sesuatu yang asing di telingaku—juga di telinga kebanyakan siswa di sini.
Namanya Rasya. Kami memang sering kesulitan memanggil namanya. Jika kami yang mengucapkan nama itu, malah terdengar seperti Rasia. Itu kata yang sulit diucapkan bagi kami.
Aku kagum padanya ...
Ini bulan September. Baru saja kami mulai masuk sekolah setelah libur musim panas.
Hari ini seperti biasa aku menemukannya di perpustakaan. Ya, perpustakaan memang tempat favoritnya sewaktu istirahat. Entah buku apa yang dibacanya—yang jelas dia sangat rajin.
“Hai, Rasia ...!” seruku menyapanya. Rasya yang sedang mengambil sebuah buku di rak menoleh, lantas tersenyum. Senyuman yang teduh.
“Hai juga,”
Aku duduk di kursi yang disediakan di sana bersama Rasya.
Kami mengobrol lama. Sebenarnya memang hanya dimulai dari pengalaman liburan. Lalu, aku malah menyambungkan obrolannya ke pelajaran fisika yang membingungkan. Dan pada akhirnya, kami malah terlibat pembicaraan mengenai OSIS.
“Eh, Rasia,” panggilku. Rasya menoleh lagi. “Mau ke kantin?”
“Ah, maaf ...” ujarnya pelan. “Aku sedang berpuasa. Maaf, ya,” tambahnya.
“He? Apa? Pu—”
“Puasa. Itu kewajiban kami sebagai seorang muslim,” ia tersenyum manis seperti biasanya.
“Hm, apa itu?”
Rasya menjelaskan maksud puasa secara panjang-lebar kepadaku. Aku cuma manggut-manggut—sok—mengerti.
“Menjadi seorang muslim memang harus begitu, ya?” tanyaku tidak mengerti. Yang sedang kupikir sekarang adalah, kenapa-aturan-di-agama-itu-ketat-sekali?
“Tentu saja!” ia tersenyum lagi. “Tapi, setelah bulan puasa ini, kami akan bertemu dengan bulan yang akan membuat kami bersih kembali. Seperti baru lahir. Karena itulah, saat itu adalah waktu yang tepat buat seseorang meminta maaf,”
“He?”
“Mungkin, setelah kau menjadi Islam, akan tahu sendiri.” ia berdiri. Mengakhiri pembicaraan.
Kalimat terakhirnya bergema di benakku. Setelah kau menjadi Islam, akan tahu sendiri?
“Agama Islam itu aneh sekali, ya?” tanyaku pelan. Tapi Rasya langsung menoleh setelah aku mengatakannya. Tatapan matanya beda dengan biasa. Sepertinya, ada kata-kataku yang salah ...
“Eh, Rasia!” aku menghentikannya. Tapi terlambat. Nampaknya, gadis yang selalu menggunakan pakaian tertutup itu sudah keluar dari ruang perpustakaan dan kembali ke kelasnya. Saat itu pulalah, bel tanda masuk berbunyi.
xXxXx
Hari ini, tanggal 3 September.
“Eeeh??” tanyaku tidak mengerti.
“Aku tidak berbohong! Tanggal 6 September besok, Rasya akan pindah dari sekolah ini!” tukas satu-satunya teman kelasku yang bisa menyebut nama Rasya dengan baik, Chinen.
“Ta, tapi ... dia belum pernah bilang kepadaku ...” ucapku lirih.
“Sebaiknya kau temui dia,” kata teman dekatku, Kana. “Minta maaf kepadanya kalau kau memiliki salah,”
Aku mengangguk pelan. Padahal, hatiku sendiri belum siap menemuinya. Belum siap menatap wajah teduh yang akan segera berpisah denganku itu.
Tapi bahkan, aku belum meminta maaf atas perkataanku yang salah kemarin. Aku sendiri malah tidak mengerti apa salahku! Tapi dia jelas-jelas kesal denganku saat itu ...
Aku memasuki kelas kembali. Lalu, aku duduk di bangkuku. Bangku nomor tiga dari depan.
Sambil menunduk, aku berpikir banyak. Tiba-tiba saja, terlintas kmbali ucapan Rasya di benakku. Setelah kau jadi Islam, akan tahu sendiri ...
Tapi sayangnya, saat itu aku melupakan kalau hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya ...
Terlalu banyak melamun memang berakibat buruk. Aku melewati sore ini dengan sia-sia. Hanya dengan melamun, memikirkan tentang perpisahanku dengan Rasya.
Dan aku benar-benar lupa ...
Sungguh. Aku melupakannya. Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan Rasya. Di sini, hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Jadi ...
“Aku tidak bisa bertemu lagi dengannya ...” gumamku lirih.
Aku segera mencari Rasya. Tapi mustahil sukses. Aku sama sekali tidak menemukannya.
“Di mana Rasya?!” tanyaku kepada teman sebangku Rasya. Dan itu kali pertamanya aku menyebut nama Rasya dengan sempurna.
“Dia ...”
“DI MANA DIA?!” aku kembali bertanya.
“Di, dia sudah pulang ...”
Sakit ...
Hatiku kembali terasa teriris. Seperti saat aku mendengar kabar bahwa Rasya akan pindah tadi siang.
“Padahal aku belum sempat mengucapkan kalimat perpisahan kepadanya ... dan aku juga belum meminta maaf kepadanya ...” sesal hati kecilku.
“Sebenarnya, ke mana Rasya akan pindah?” tanyaku pelan. Aku sudah menyerah. Pasrah.
“Aku juga kurang tahu. Tapi, dia pernah bilang kalau dia memiliki darah kelahiran Indonesia. Jadi ...”
“Jadi dia pindah ke Indonesia??” aku terbelalak. Tidak percaya. Aku benar-benar lalai. Bagaimana aku bisa lupa? Hari ini benar-benar hari terakhirku dengannya.
Aku jadi merasakan perasaan itu. Walau dia berbeda kelas denganku, kebaikan hatinya itu membuat dia punya banyak teman. Aku juga ... sudah menganggapnya sebagai sahabat ...
Aku kembali teringat kalimat yang diucapkan Rasya. Iya. Kalimat itu. Satu-satunya kemungkinan untuk meminta maaf padanya.
Saat itu adalah waktu yang tepat buat seseorang meminta maaf. Ya, kata itu! Setelah bulan puasa, ada sebuah hari terbaik buat meminta maaf!
Dan aku dengan harap-harap cemas menunggu hari itu.
xXxXx
Tanggal 6 September.
Hari ini, hari Rasya akan berangkat ke Indonesia. Aku sudah tenang. Toh, aku bisa meminta maaf saat harinya telah tiba lewat SMS atau Telepon, kan? Lagi pula, perminta maafan setiap orang akan diterima pada hari itu! Jadi, percuma saja aku meminta maaf di hari lain yang belum tentu dimaafkan.
Sepulang sekolah, aku menyalakan TV.
“Kecelakaan yang menewaskan hampir seluruh isi pesawat itu terjadi di Indonesia, Asia Tenggara.” berita di saluran televisi swasta mulai membacakan berita teraktual.
Aku terbelalak.
Itu ... tidak mungkin, kan?
Aku menggeleng cepat. “Apa yang aku pikirkan, sih? Pasti itu bukan pesawat yang dinaiki Rasya!”
xXxXx
10 September.
Aku memencet-mencet tombol handphone-ku. Lantas, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rasya.
Tapi, pesan itu tidak juga terkirim. Sudah kuulang berkali-kali, tapi tetap saja tidak bisa.
Dan saat itu juga, aku dikirimi pesan singkat oleh teman sekelas Rasya. Tepatnya, teman dekat Rasya di kelas.
Rasya telah meninggal di kecelakaan pesawat tanggal 6 September kemarin. Marilah kita sama-sama berkabung untuknya ...
Aku jatuh terduduk. Di hari yang sangat istimewa baginya itu, dia ... dia ... Pergi?
“Ya Tuhan ...”
xXxXx
Rasya, aku punya kabar baik untukmu. Walau kau sudah tiada, aku harap kau masih selalu tetap mendengar kata hatiku.
Aku sudah berganti agama. Sekarang, aku adalah seorang muslim. Dan sekarang, aku tahu betapa bodohnya aku mengatakan kalau agama Islam itu aneh. Pasti itu yang membuatku kesal kepadaku, kan?
Rasya.
Semoga Allah menempatkanmu di sisi yang baik.
Aku memang belum sempat mengikuti puasa Ramadhan. Tapi Rasya, mulai tanggal 2 Syawal kemarin, aku sudah berhasil mengikuti puasa. Walau aku bisa merasakan perutku yang sakit, tapi aku menikmatinya.
Rasya ...
Tolong maafkan kesalahan-kesalahanku, ya ...
Tolong ...
End
By : Kemuning Arumingtyas Adiputri [^.^]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar