My New School
Aku Miau, si kucing persia. Hari ini, aku akan menempati rumah baru. Itu dikarenakan pemilikku, Sanae-chan dan keluarganya yang ramah akan pindah rumah.
Selama perjalanan, aku tidur di pangkuan Sanae-chan yang hangat. Rasanya perjalanan ini berlalu cepat sekali. Hahaha... tentu, karena aku tidur.
Sampailah kami di rumah baru. Rumah ini sangat luas untuk hitunganku.
“Nah, Miau-chan tidur di sini, ya!” Sanae-chan meletakkanku di ranjang yang empuk.
“Miaaaaw!” aku hanya menggeliat.
“Sanae pergi dulu ya...” Sanae-chan berlalu pergi. Aku memperhatikan ruanganku. Ruangan ini lebih dari cukup bagiku yang hanya seekor kucing.
Aku yang tak tahan hanya tiduran saja seperti kucing pemalas, segera nyelonong ke luar rumah lewat jendela.
“Wah, kenapa kau tidak sekolah?!” tanya seekor kucing bertubuh besar dan berwajah geram menghadangku.
“Se ... sekolah apa?” tanyaku gugup.
“Jangan pura-pura! Aku akan mengantarmu dan mengadukanmu ke gurumu!” sela kucing itu. Aku bergidik takut. Ia menarikku. Aku yang jauh lebih kecil darinyapun tak bisa mengelak lagi.
“Wah, kau sudah datang!” seru guru yang ada di sebuah kelas. Aku memperhatikan murid-murid di sini. Mereka berukuran sama sepertiku. “Silakan duduk, anak manis!”
Aku duduk di samping kucing Jepang yang manis. Ia tersenyum padaku.
“Namaku Myu. Kau Miau-chan, kan?” Myu-chan tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.
“Ya!”
Kami menjadi sahabat yang sangat akrab. Ia sangat baik padaku. Katanya, nama pemiliknya adalah Fumie-san. Namanya agak mirip dengan Sanae-chan, ya ...? Sebenarnya, pemiliknya bukan golongan orang mampu, tapi sangat mencintai budaya kami, budaya Jepang. Bagaimanapun juga, aku tetap ingin berteman dengan Myu-chan!
“Di mana rumahmu?” tanya Myu-chan kepadaku.
“Oh, aku? Aku tinggal di rumah baru itu! Kau tahu? Aku tidak hafal alamatnya.” sahutku.
“Ya, aku tahu,rumah yang besar dan megah itu, kan?”
“Tidak juga ...,” aku malu-malu.
Beberapa jam berlalu. Ada suara yang sangat ku kenal memanggil-manggil namaku.
“Miau-chan! Dimana kamu?!”
“Ah, gawat!” gumamku. Sepertinya itu Sanae-chan. Tak kusangka, ternyata Myu-chan juga dipanggil-panggil oleh pemiliknya, Fumie-san.
“Myu-chan! Kamu di mana?”
Aku dan Myu-chan deg-degan. Teman-teman kami yang lain dapat tempat sembunyi, tapi tidak bagi kami! Kedua orang itu makin mendekat. Kami hanya bisa menutup mata ketakutan ...
Saat kami membuka mata kami,
“Fumie!” teriak Sanae-chan.
“Ah, kamu .... Sanae, ya? Ya ampun! Sanae!” Fumie-san mendekat ke arah Sanae-chan.
“Kita bisa bertemu lagi di sini ...” tukas Sanae-chan sambil memeluk Fumie-san.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku kepada Myu-chan. Myu-chan hanya mengangkat bahu, tanda tidak tahu.
“Miau-chan, ada kabar baik! Kau tahu, pemilik kucing yang menjadi temanmu ini, adalah Fumie, saudara kembarku!” Sanae-chan mengangkatku sambil menitikkan air matanya. Aku terkejut. Dia ... kembarannya Sanae-chan? Pantas saja mereka mirip!
“Bagaimana aku bisa berterimakasih kepada tuhan?” Fumie-san tampak senang sekali.
Sanae-chan menceritakan lagi masa lalunya yang menyedihkan. Yaitu ketika ia kehilangan Fumie-san.
Saat itu, mereka masih SD kelas 4. Mereka yang masih polos diculik begitu saja oleh orang yang tidak dikenal. Sanae-chan yang menyadari bahaya akan hal ini segera lari sekencang-kencangnya. Begitu juga Fumie-san. Namun, Fumie-san tersesat di jalan, sehingga ia tak bisa pulang ke rumah. Sejak saat itu, mereka tidak bertemu lagi sampai sekarang. Sampai saat ini, Sanae-chan sangat menyesal karena tidak mengajak Fumie-san untuk lari bersamanya.
Aku senang, ternyata selain dapat teman baru, aku bisa mempertemukan saudara yang tidak bertemu selama 3 tahun lebih ...,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar