Liburan Sera
Untuk kesekian kalinya, Sera menguap. Liburan musim panas ini sangatlah membosankan. Dia memang libur, tapi orang tuanya tetap sibuk bekerja.
Sera Micely nama aslinya. Ia adalah seekor tikus putih yang hidup di Animal City, sebuah kota kecil di negaranya. Dia memang pemalas dan cuek. Tapi, adakalanya ia sadar akan sifat buruknya.
Hari ini, untuk kesekian kalinya ia duduk termenung di belakang jendela kamarnya yang mungil. Ia membayangkan acara liburan teman-temannya. Tersy hamster pergi ke pedesaan yang masih asri di negaranya, yaitu Garden Town, Keyra monyet pergi ke taman bermain terkenal, yaitu Forest Park, Cowse sapi akan berlibur ke negara tetangga. Juga teman-teman lainnya. Pasti liburan mereka sangat menyenangkan ...!
“Papa pulang!” teriak seseorang dari pintu rumah membangunkan lamunan Sera. Sera berlari kecil ke luar.
“Wah, Papa sudah pulang!” Sera tampak girang.
“Sera, besok hari Sabtu, Papa akan menunjukkan sesuatu untuk Sera!” sela papa.
“Ha?! Sesuatu apa?” tanya Sera penasaran.
“Ada aja!” papa mengedipkan sebelah matanya sambil menaruh tasnya.
Sera agak penasaran. Tapi, ia menutup kepenasarannya itu. “Sudahlah ...,” pikirnya. Malampun telah datang. Setelah gosok gigi, Serapun tidur, menanti hari esok.
***
“Sera! Cepat bangun! Kau mau ikut tidak?!” mama membangunkan Sera sambil menarik selimut Sera. Tapi Sera tak menghiraukannya.
Ayah yang masih beres-beres menghampiri Sera. Lalu, ia membisikkan sesuatu ke telinga Sera.
“HAAAH!! O, iya! Ini hari Sabtu!” Sera langsung meloncat tak karuan.
“Apa yang Papa bisikkan?” tanya mama heran. Papa hanya tersenyum simpul.
Mereka berangkat menaiki mobil milik Sera dan keluarganya. Sera mengamati pemandangan dari luar jendela mobil.
Beberapa saat berlalu. Kini, mobil telah berhenti. Bukan karena lampu merah, bukan juga karena mogok. Melainkan, sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
“Tempat apa ini?” tanya Sera sembari keluar dari mobil.
“Ini makam. Kita akan mengunjungi Kakek yang telah wafat.” sahut mama sambil menunjuk papan yang bertuliskan ‘Pemakaman Umum Hewan (PUH) Animal Die’. Sera agak kecewa. Ia pikir, akan berlibur ke tempat yang menyenangkan.
“Ayo masuk!” ajak papa. Mau tak mau Sera mengikuti papa dan mama dari belakang.
Setelah menaburkan bunga yang barusan dibeli oleh papa, mereka berdo’a agar kakek selamat di akhirat. Lalu, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Di mobil, Sera tertidur pulas. Mungkin karena kecapekan. Hmmm ...., tentu karena perjalanan yang lama.
Tiba-tiba, Sera terbangun. Ia tidak mendapati orangtuanya di bangku mobil bagian depan. Sera berteriak-teriak mencari orangtuanya. Tiba-tiba,
“Sera ...,” panggil seseorang.
Sera menoleh ke arah suara itu. Di saat itu pula, langit berubah jadi gelap gulita. Semua hewan yang ada di sana semuanya menghilang. Sera sangat ketakutan.
“Siapa di sana?!” seru Sera sambil bergidik ngeri.
“Aku di sini. Aku Kakekmu, Sera. Kakekmu yang baru saja kau kunjungi.” jawab orang itu.
Sera tersentak. Ia berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Tanpa terasa, matanya mengeluarkan air mata. Ya...dia menangis karena ketakutan.
“Jangan pergi!” orang itu mengejar Sera. Secepat apapun Sera berlari, ia tak bisa mengalahkan kecapatan kakek itu.
“Padahal ia sudah reyot ...,” pikir sera dalam hatinya.
Tanpa disadari, kakek aneh itu sudah ada di depan Sera. Sera hendak balik arah, tapi orang itu ada juga. Begitupula dari samping kanan, maupun kiri. Hiks! Air mata Sera keluar lebih deras lagi. Ia sungguh ketakutan. Dan sekarang, ia tak bisa lari.
“Kenapa kau malas mengunjungi kakekmu ...?!” tanya para kakek itu seraya terbang (mereka memang terbang,) ke arah Sera sambil bersiap mengayunkan tongkat yang tak kalah anehnya dengan penampilan orang itu.
“AAAAAKH ...!” jerit Sera. Ia tersadar. “Hahh ... hahh ...,” napas Sera sudah tidak beraturan lagi.
“Ada apa, Nak?” tanya mama sambil menoleh ke arah Sera.
Sera celingak-celinguk ke kanan-kiri. “Kemana Kakek itu?” tanya hati Sera. “Ti ... tidak, Ma, aku tidak apa-apa.”
“Nah, sekarang turunlah. Kita sudah sampai.” tukas papa.
Sera menoleh ke luar. Ternyata ia sampai di rumah Neneknya.
“Rumah Nenek?”
“Ada masalah apa?” papa balas tanya. Sera menggeleng pelan. Walaupun ia ingat, saat itu, Kakek meninggal di rumah ini. “Huft ...!” Sera menghela napasnya. Ia berjanji akan rajin mengunjungi makam Kakek tersayangnya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar