Ini adalah cerpen yang aku publikasi di blogku yang satunya; Arumi's Internet Magazine
Bagi yang belum sempat membacanya, selamat menikmati.
Spring, My Spring
Aku berjalan gontai menuju sekolahku. Meskipun si putih bunga sakura disepanjang jalan yang kulewati menggodaku dengan manis. Meskipun aroma musim semi menjalar memasuki rongga dadaku. Meskipun tak lagi kurasakan dinginnya musim salju. Tapi tetaplah, aku tak suka hari ini.
Namaku Hanazeki Sakura, siswi SMP Minami, kelas dua. SMP Minami, merupakan sebuah SMP Swasta, khusus siswa perempuan. Ada yang unik dengan seragam sekolah kami—bila kita bandingkan dengan seragam sekolah kebanyakan. Kemeja putih, rok kotak-kotak, dan rompi merah marun.
Jarak rumahku dengan sekolah tidaklah jauh. Kau hanya perlu beberapa blok saja, dan kau akan melihat sebuah papan besar bertuliskan Minami Junior High School. Minami memang sebuah sekolah yang luas. Halamannya luas membentang, dengan rimbun pepohonan. Di pinggir halaman, ada sebuah taman bunga kecil. Dan kuyakin, hari ini, bunga tulip yang kami tanam semester satu yang lalu pasti telah mekar dengan indahnya.
Tapi, layaknya siswa kebanyakan, sekolah merupakan hal yang membosankan bagiku. Apalagi musim semi yang selalu saja banyak tugas-tugas aneh yang merepotkan. Maka, musim semi tidak lagi menyenangkan. Bahkan, aku agak anti dengan musim semi, benci malah. Kalau kata temanku, aku terkena penyakit springfobia. Hahaha ...
Ah, aku melamun. Sudah kumasuki gerbang sekolah rupanya. Meski jam pelajaran masih beberapa belas menit lagi tapi sekolah sudah tampak ramai. Tanpa kuhiraukan keramaian di hari pertama masuk, segera saja kunaiki tangga menuju kelasku, di lantai tiga.
Tak jauh beda dengan halaman, kelas pun terasa begitu ramai. Sudah banyak yang datang, sampai aku kesulitan mencari tempat duduk yang kosong. Dan, beruntunglah aku, seorang gadis bule melambaikan tangannya ke arahku. Memberi isyarat, supaya aku duduk di sebelahnya. Kudekati dia.
Bagus, bangkuku adalah nomor empat dari depan, paling pojok, dekat jendela. Kupikir dia, kawanku, telah datang pagi-pagi hanya untuk mendapatkan kursi ini. Dia tahu aku suka kursi agak belakang, dan dekat dengan jendela—karena aku senang sekali melamun.
Ia bernama Lily Bromeilad. Seorang siswi pindahan dari London. Rambutnya panjang, lurus, dan berwarna keemasan. Ia selalu ceria dan ingin mengerti hal-hal baru. Juga pintar. Kulitnya putih dan sangat cantik. Sayangnya, Minami adalah sekolah khusus perempuan. Kalau saja sekolah umum, tak terkira jumlah laki-laki yang akan mabuk kepayang kepadanya.
Sang guru telah memasuki kelas, tanda pelajaran akan dimulai. Bahasa inggris adalah pelajaran kami di pagi hari ini. Di mana sang guru adalah seorang yang sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol. Masih muda, gayanya keren pula. Di pelajarannya, selalu full music. Bukan lagu yang membosankan dan mengajak kita tertidur, melainkan lagu-lagu tren anak muda. Beberapa teman terhanyut ikut menyanyikan bait-bait lagunya, sebagian lagi hanya menghentak-hentakkan kakinya, mengikuti alunan musik.
Namun, tidak untukku. Meski musik telah memenuhi seluruh ruangan kelasku, aku malah menyimpan dagu dengan malas di mejaku. Pandanganku kosong, tak mengartikan apa-apa. Meskipun sang guru asyik-asyiknya menceritakan sesuatu dengan dua bahasa, tak ada yang masuk ke kepalaku. Aku menghela napas.
“Kenapa lesu?” pertanyaannya terlontar begitu saja. Lily begitu riang hari ini.
“Banyak orang sudah tahu alasanku, Ly.” tidak kutoleh dia.
Ia bersungut. “Jangan bilang .. karena penyakit springfobia-mu,”
“Itu memang benar.” kupalingkan wajahku. Melongok ke arah jendela. Semilir angin perlahan masuk melalui celah-celahnya. Sesekali mengajak rambut kecokelatanku untuk melambai-lambai. Sejuk. Ya, harus kuakui itu. Itu salah satu keindahan di musim semi ini. Begitu juga dengan bunga sakura yang berkibar-kibar indah di luar jendela. Membuai sebagian hatiku yang panas. Panas, meskipun musim semi begitu sejuk.
“Sepulang sekolah bisa temani aku, kan?”
Aku kembali menoleh ke arah Lily. “Ke mana?” tampang bingung menghiasi wajahku.
“Yah, nanti kau akan tahu. Tapi kau mau, kan?”
“Bromeilad, what’s up?” Lily kena tegur. Di sana sang guru bahasa inggris sedang tersenyum—aku tak yakin apa maksud senyumannya—kepada Lily. Ya, walaupun tak ada unsur killer pada guru ini, suasana di kelas kami sama sekali sunyi. Semuanya fokus. Hebat, bukan? Maka dari itu, walau tadi Lily hanya berbicara dengan begitu pelan—atau mendekati berbisik malah, guru kami (siapa pun itu) akan langsung mendelik ke arah kami.
“Nothing, Mr. ..” Lily tersenyum kecut. Meski ia tahu pasti kalau guru kami yang satu ini tak akan memarahinya.
__SpringSpring__
“Apa, sih?! Aku kan belum bilang kalau aku mau ikut!”
Kerah bajuku ditarik olehnya. Membuatku sedikit tercekik. Ternyata dia kasar juga. Pernah lihat peliharaan yang membenci majikannya? Itulah posisiku kini. Emm .. atau majikan yang terlalu tega kepada peliharaannya? Ah, entahlah. Yang jelas, siapa pun, asal ganteng dan keren, silakan tolong aku kapan saja!
Ah, tunggu, kalau saja orang itu ganteng dan keren, otomatis dia cowok, bukan? Kalau cowok, pasti Lily-lah, yang akan dibantu—bukan aku!! Tentu karena dia luar biasa cantik .. Ehh .. berarti, akan ada dua orang yang menyeret kerahku? Bagaimana kalau napasku berhenti! Sumpah, tidak berperikemanusiaan! Kalau begitu, biarlah seorang perempuan yang membantuku. Hmm .. tapi bagaimana kalau orang itu juga memihak Lily? Ah, mati aku! Satu orang yang menyeret saja sudah segininya tersiksa, apalagi tiga orang?? Hweeee ..!
“Oke Sakucchi,” Lily melepaskanku, sembali berbalik. Agak terengah. “Kapan kau mau mengalah dan berjalan sendiri?”
Hari ini, kudapati pelajaran baru—ternyata melamun di keadaan yang menyulitkan, cukup membantu. Dia yang capek sendiri. Sementara aku? 1-0, Ly!
“Ngg ..” lama dia menunggu jawaban dariku, yang memang sengaja mengulur waktu. “Bagaimana, ya ..?”
“Oke, aku berubah pikiran! Mana, kerah bajumu, biar kuseret lagi saja ..!”
Sontak, kuangkat kedua lenganku. “Wow, wow, wow .. sabar, cantik!”
“Ngegombal!”
“Weekk!”
“Mau atau tidak??”
Kupandangi matanya yang serius. Bertahun-tahun sudah aku mengenalnya, yaitu sejak ia pindah ke Jepang pada saat kami kelas tiga. Karena lamanya waktu yang kulewati bersamanya pula, aku sudah berhasil mengartikan semua kelakuannya—bahkan tatapan matanya.
Aku-tidak-akan-mengecewakanmu!
Itulah artinya.
__SpringSpring__
Tempat ini begitu luas. Dengan rimbun pepohonan dan warna pink muda yang membutakan mataku. Hembusan angin mengenyuhkan raga dan pikiranku seketika. Gerbang berwara merah berdiri kokoh di hadapanku. Kuil tua ada di seberang sana. Banyaknya pohon sakura tak bisa kuhitung—banyak nian. Beberapa di antara mereka telah kehilangan sebagian mahkota bunga sakuranya yang telah gugur. Namun, ada pula yang masih kaya akan bunga yang merupakan ciri khas Jepang tersebut. Terkadang kelopak mereka yang tertiup angin sesekali mendekat ke arahku, mempersembahkan tarian sakura, yang hanya ada di negeri ini.
Melihat semuanya, membuatku mengakui kalau Lily memang tak pernah membuatku kecewa. Sebagai teman, dia paling berbeda. Tak ada duanya di dunia ini. Bahkan, kalau kau mau pergi ke Andromeda dan mencari makhluk seperti dia, silakan, tapi, aku tidak memastikan keberhasilan atas pencarianmu.
Selama ini, hanya dia seorang yang membahagiakanku—bahkan lebih dari keluargaku. Orangtuaku orang sibuk, tak jarang pulang malam. Atau bahkan, pulang keesokan paginya. Sedangkan saudaraku? Ah, hanya satu orang kakak laki-laki, itu pun pertukaran pelajar di Australia. Aku mulai menyadari betapa beruntungnya aku, memiliki Lily. Bahkan, aku sendiri merasa tak pernah membuatnya senang, bangga, ataupun bahagia. Hah, jadi curhat colongan begini, yah? Ehe ..
“Ini ..”
“Selamat datang, aku selalu ke sini jika sedang muram!” Lily tersenyum di sebelahku. Rambut pirang yang sebagian diikatnya memperindah sosoknya. Terutama jika angin yang genit meniup mahkotanya itu.
“Kuil?” kupersembahkan kepadanya ekspresiku yang heran.
“Yap,” ia melangkahkan kakinya, melewati gerbang. “Kuil ini milik buyut dari buyutku yang merupakan orang Jepang. Ehm .. kalau tidak salah, sudah lima keturunan. Namun sekarang, jarang ada yang mengurusinya,”
Angin kembali berhembus. “Keren ..” kukatupkan mataku. Membiarkan rambut panjangku tertiup. Kali ini tiupannya cukup keras, namun menyenangkan. Bisa membayangkan seberapa menyenangkannya hembusan angin di negara tropis macam Bali [menurut surveyku (Yuka maksudnya), sebagian orang luar negeri hanya mengenal Bali, dan mengira Indonesia hanya negara yang dekat dengan Bali, bukan negara tempat Bali berada.]? Mungkin angin di pantai-pantai negara mereka memiliki angin yang menyenangkan macam ini, ya?
“Hei, sakura ..!”
Kutoleh Lily yang—ah, dia sudah tak lagi berada di tempatnya. Kutengok kanan dan kiri, juga belakang. Tidak ada. Memang aneh kedengarannya, tapi aku mencoba mencarinya ke atas dan .. dia memang berada di sana.
Sebuah pohon sakura tua yang sungguh rimbun dan penuh akan warna pink muda-putih menjadi tempat bertenggernya kini. Melihat dirinya yang sedang duduk membuatku membayangkan ia adalah seorang puteri—dari Eropa terutama. Kalau sulit membayangkan, pikirkan saja bagaimana wajah puteri dari pasangan William dan Kate pada usia 14 tahun. Eh, masih sulit, yah?—yang sedang menikmati alam bebasnya. Wajahnya yang indah, bisa membuat orang berpikir kalau ia memiliki kesempatan untuk menjadi pacar dari Justin Bieber, kalau saja Justin belum jadian dengan Selena Gomez.
“Naiklah—di sini menyenangkan, loh,” ia melambaikan tangannya ke arahku. Sekarang, bayangan anak dari William dan Kate berubah menjadi seorang malaikat yang turun dari khayangan. Gaunnya putih, sangat indah, dan mukanya jernih. Dia membawa sebuah harpa emas yang berkilauan, dan .. Ya Tuhan .. aku melamun lagi.
Segera saja kuikuti perintahnya. Tak pernah kusangka sebelumnya, kalau Lily adalah seorang pemanjat yang hebat. Aku yang terkenal agak tomboy dan memiliki bakat olahraga—bukannya sombong—saja tak bisa secepat dirinya yang memanjat hanya dalam waktu aku menutup mataku sejenak. Atau .. aku yang tak sadar kalau aku yang terlalu lama melamun sampai lupa akan waktu? Aku jadi bingung. Sudah, lupakan saja.
Akhirnya aku berhasil meraih cabang yang didudukinya. Setelah kucantolkan tasku di salah satu ujing cabang, aku pun duduk di sebelahnya.
Musim semi sangat indah, bukan ..?
Eh, aku ngomong apa?
__SpringSpring__
Baiklah, aku sendiri masih merasa begitu bingung jika kuingat kejadian itu. Yang jelas, sejak saat itu, kami jadi sering mengunjungi kuil keluarga Bromeilad. Tak kusangka di balik nama keluarganya yang terdengar sangat “barat”, mereka mempunyai sebuah kuil. Kuil indah yang menyimpan banyak kenangan atas diriku dan kawanku, Lily Bromeilad.
Apa saja kulakukan di kuil itu; sekedar duduk di sana untuk menikmati keindahan Jepang, membaca buku sambil bercerita ria, bermain musik—jangan salah, suara Lily sangat bagus, loh ...—sampai memandang bulan pada saat purnama.
Semuanya membuat musim semiku begitu indah.
__SpringSpring__
Sekarang, tak ada lagi yang menemaniku duduk di sini. Memandangi bintang bersama, mengisi hari-hari dengan bercerita, merasakan indahnya Jepang dari puncak sini .. ah, tak ada lagi.
Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Terkadang, ketika aku mendengar pepatah itu, hatiku serasa digores. Membuat luka yang demikian besar.
Minggu lalu, Lily kembali ke London untuk meneruskan sekolah. Ia tak lagi merupakan murid Minami. Dirugikan rasanya, kami kehilangan seorang siswi yang multitalent sepertinya. Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, ia meninggalkanku dengan tiba-tiba. Yang ada hanya secarik surat berwarna pink dengan gambar bunga sakura.
Dear, Sakura
Aku merasa bersalah tak bisa mengabarkanmu lebih cepat. Hari ini, aku berusaha datang pagi-pagi untuk menemuimu, mengatakan kebenaran atas kepindahanku empat tahun yang lalu. Namun yang kudapatkan, hanya kursimu yang kosong. Kedatanganku memang terlalu pagi, Saku, jam 06.00. Jadi, kutulis dengan penuh airmata surat ini. Maafkan aku.
Ternyata hanya beberapa tahun aku tinggal di Jepang. Ayah masih harus menjalankan perusahaan kami di London. Dan, baru kemarin malam kudapati berita itu. Rasanya begitu menyedihkan jikalau aku memberitahukan kabar ini detik itu juga. Aku menangis semalaman. Bukan main. Pagi ini kudapati mataku mirip dengan kodok yang salah gen sehingga mirip manusia. Hahaha ..
Saku, tahu tidak? Aku hanya mengharapkan ini darimu; jangan pernah kamu membenci musim semi. Karena musim semi lah, yang membuat kita berjumpa, dan ternyata, musim semi pula yang memisahkan kita. Aku tak akan melupakanmu. Suatu hari, aku akan kembali mengunjungimu. Janji!
Love ya, Saku
Lily
Tahukah kamu?
Lily-lah, yang sekarang merupakan musim semiku. Menghangatkanku dari dinginnya kebencianku. Mengharumkan busuknya dendamku. Menghiasi kosongnya perasaanku.
Aku menyayangimu, Atashi no Haru. Tetaplah menjadi musim semiku selamanya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar